peduli, berbagi info ini:

“Sekarang, sumber air su dekat!”

Anda tentu akrab dengan iklan tersebut. Program Corporate, Social, Responsibility dari salah satu merek air mineral ternama ini menunjukkan betapa ketimpangan akses pada air bersih sangat terlihat di Tanah Air. Padahal, air bersih merupakan kebutuhan utama manusia. Melihat fenomena tersebut, banyak anggota masyarakat yang tidak tinggal diam dan berusaha untuk mengatasinya, baik secara langsung maupun tidak. Luasnya bentang geografis Indonesia dan beragamnya kondisi alam membuat peranan masyarakat menjadi sangat penting dalam mengatasi krisis air. Apa saja peran masyarakat merawat air di sekitarnya? Simak artikel berikut ini.

Walhi: Merawat Air melalui Advokasi Kebijakan

Sebagai salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) tertua yang berkiprah di bidang ekologi, Walhi sudah banyak berkomentar mengenai ketersediaan air. Contohnya, pada tahun 2013, Direktur Eksekutif Walhi Abetnego Tarigan menyerukan kepada pemerintah untuk menghentikan kebijakan privatisasi air. Seruan ini bukan tanpa alasan. Sejak 1998, Walhi telah memantau kondisi air bersih pasca kebijakan privatisasi dan menemukan bahwa kondisi layanan air bersih tidak mengalami perbaikan. Privatisasi air bersih ini, menurut Walhi, justru membuat kualitas layanan air bersih memburuk.

Apa itu privatisasi air? Privatisasi air adalah penyerahan kendali kepada pihak swasta untuk menjalankan layanan air bersih. Privatisasi ini pertama kali dilakukan di Serang Utara pada tahun 1993, disusul Batam di tahun 1996, dan Jakarta di tahun 1998. Di Jakarta hingga saat ini terdapat dua perusahaan swasta penyedia air bersih, yaitu PT Palyja yang mencakup wilayah Jakarta Selatan dan Barat, serta PT Aetra yang melayani Jakarta Timur dan Utara.

Privatisasi dilakukan dengan harapan pihak swasta dapat menyediakan layanan air yang lebih baik. Namun, sayangnya, setelah dipegang oleh swasta layanan air justru memburuk. Contohnya, pada tahun 1993, kadar konsentrasi detergen pada air di Indonesia hanya sebesar 0,031 mg per liter. Setelah privatisasi, pada tahun 1999 kadar detergen melejit menjadi 0,17 mg per liter.

Selain masalah kualitas yang memburuk, privatisasi juga membuat air lebih sulit diakses oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Karena perusahaan swasta berorientasi keuntungan, tidak jarang mereka mengenakan tarif per meter kubik yang relatif mahal. Kedua alasan tersebut sudah cukup bagi Walhi untuk menolak privatisasi air. Walhi berharap bahwa advokasi yang dilakukan akan berdampak positif terhadap ketersediaan dan kualitas air di masa yang akan datang.

Ecoton Gresik, Nol Sampah Surabaya, dan IMTLI Jawa Timur: Melawan Mitos demi Sungai yang Lebih Baik

Terkadang, mitos dapat menjadi penghalang kemajuan. Di beberapa wilayah Gresik, Jawa Timur, mitos suluten yang dianut warga sekitar bahkan menyebabkan kerusakan lingkungan. Mengapa bisa?

Ya, masyarakat sekitar percaya bahwa membuang popok bayi bekas pakai ke tempat pembuangan sementara akan menyebabkan kemaluan bayi terbakar karena sampah popok tersebut akan dibakar di tempat pembuangan akhir. Untuk menghindari mitos tersebut, masyarakat akhirnya membuang sampah popok ke sungai. Di sinilah masalah terjadi.

Limbah popok bayi mengandung berbagai zat kimia yang berbahaya bagi lingkungan, salah satunya dioksin dan tributyl tin (TBT). Menurut penelitian, 80 persen ikan di sungai Jawa Timur (Wringinanom Gresik, Warugunung Karang Pilang, dan Kalimas Surabaya) mengalami perubahan alat kelamin, dan 25 persen di antaranya mandul. Fenomena ini diperhatikan secara saksama oleh berbagai lembaga swadaya masyarakat yang berkonsentrasi di bidang lingkungan, di antaranya Ecoton Gresik, Nol Sampah Surabaya, dan IMTLI Jawa Timur. Mereka kemudian mengadakan aksi pembersihan sungai, dimulai dari sungai Wringanom hingga Kalimas, pada bulan Juli 2017. Pembersihan sungai ini memakan waktu empat hari, dan menghasilkan 3,4 kuintal limbah popok. Limbah tersebut kemudian diserahkan kepada Kepala Bidang Pengawas dan Penataan Lingkungan Hidup BLH Surabaya.

Andre Graff: Membaktikan Diri demi Air Bersih di Nusa Tenggara

Panggilan jiwa mungkin dapat hadir dalam bentuk apa saja, di mana saja. Berawal dari kunjungan sebagai turis ke Bali dan berbagai kepulauan di Nusa Tenggara Timur, Andre Graff memilih untuk membaktikan dirinya demi menyediakan air bersih yang layak untuk warga sekitar.

Pria yang awalnya berprofesi sebagai pilot balon udara ini dahulu pernah menderita penyakit berat dan mematikan. Setelah sehat, ia berwisata ke Bali pada tahun 2004, dan berkunjung ke kampung adat Ledetadu pada tahun 2005. Di sana, ia mengambil cukup banyak foto. Beberapa bulan setelahnya, ia kembali untuk menyerahkan foto-foto tersebut kepada masyarakat kampung dan menyadari bahwa masyarakat di daerah tersebut mengalami kesulitan air. Kesulitan air ini memancing penyakit seperti malaria, bisul, dan gatal-gatal.

Tersentuh dengan kondisi tersebut, ia kemudian bertindak. Setelah bertemu pastor Frans Lakner yang mengabdikan hidupnya untuk Sabu, ia belajar cara membuat sumur dan memasang gorong-gorong agar air yang dihasilkan tidak bercampur lumpur. Ia pun kemudian kembali ke Ledetadu dan membuat sumur yang dapat digunakan oleh 1.250 keluarga.

Kesuksesan pembuatan sumur ini membuat Andre merasa terpacu untuk membuat sumur-sumur lainnya. Hingga tahun 2014, ia telah membuat 29 sumur bersama Pilot Project Waru Wora. Sumur tersebut dimanfaatkan oleh 25.000 hingga 30.000 jiwa di Sumba. Sumur yang ia buat memiliki kedalaman 5 hingga 20 meter, tergantung tempat dan lokasi geologisnya.

Pria yang sering dipanggil Andre Sumur ini mengaku terkendala masalah dana saat menjalankan misinya. Namun, ia tidak menyerah begitu saja. Dari donasi yang ia dapatkan, ia masih berencana untuk membangun kembali sumur dan membuat filtrasi air agar air yang didapatkan dapat diminum secara langsung. Filtrasi ini juga dapat menghemat waktu dan sumber daya lingkungan, mengingat daerah-daerah tersebut masih mengandalkan kayu bakar dalam kegiatan memasak. Apa yang dilakukan Andre merupakan bukti nyata peran masyarakat merawat air.

Sedekah Air: Mengulurkan Tangan demi Ketersediaan Air

Selain merawat air dan sungai, peranan masyarakat juga diperlukan untuk memastikan ketersediaan air, terutama di pelosok negeri. Meskipun air bersih merupakan hak rakyat, masih banyak daerah di Indonesia yang belum terjangkau sumber air. Menurut data Riskesdas tahun 2013, baru sekitar 66,8 persen rumah tangga di Indonesia yang memiliki akses terhadap air bersih yang layak. Tentunya, fakta ini sangat mengkhawatirkan. Tidak tersedianya air bersih dapat menimbulkan berbagai masalah, seperti mewabahnya penyakit dan gagalnya panen sawah.

Berangkat dari fakta tersebut, LSM Sedekah Air yang diketuai oleh Eric M Nasir berusaha untuk mengatasinya. Organisasi yang terbentuk sejak 2013 ini memiliki visi untuk “menjadi lembaga nonprofit pelopor penyedia sarana air bersih dengan semangat amanah dan profesionalisme kepada seluruh masyarakat Indonesia yang memiliki permasalahan air bersih”. Visi tersebut diwujudkan dengan pembangunan sumur bor dan filter air, juga konservasi air bersih dan distribusi air.

Sejak didirikan, Sedekah Air telah mengalirkan air pada belasan rumah ibadah, sekolah, dan perkampungan yang sebelumnya kesulitan mengakses air bersih. Sedekah Air juga telah menjangkau berbagai kota dan provinsi di Indonesia, seperti Bandung, Jakarta, Karawang, Yogyakarta, dan Brebes. Tertarik untuk membantu Sedekah Air? Anda dapat mengusulkan tempat yang memerlukan air bersih, berdonasi, atau bahkan mendaftarkan diri sebagai relawan.

 

*Artikel ini merupakan sumbangan dari perusahaan desain Mehibi.
Untuk kontribusi tulisan/artikel, klik tautan berikut: http://sedekahair.org/sedekah-konten/
Untuk kontribusi dalam bentuk lain, hubungi email berikut [email protected]

peduli, berbagi info ini:
ArabicEnglishFrenchIndonesianSpanish
WhatsApp Hubungi kami